A L Q O Y Y I M

Loading

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada Allâh sedikit pun. Dan Allâh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Ali ‘Imrân/3:144]

Akhirnya, manusia termulia itupun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rasûlullâh, kekasih Allâh itu wafat dalam pangkuan istri tercinta Aisyah Radhiyallahu anhuma . Setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, seluruh kota Madinah al-munawwarah terasa gelap gulita. Ketika itu, Abu Bakr tidak sedang berada di dekat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Radhiyallahu anhu sedang berada di rumahnya. Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu sangat terpukul mendengar berita kematian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia berdiri sembari menyuarakan ketidak percayaannya mendengar kematian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia Radhiyallahu anhu mengatakan, “Demi Allâh! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak wafat.”

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu yang tidak percaya tentang berita wafatnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak wafat, akan Rabbnya telah mengirim utusan kepadanya sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah mengirim utusan-Nya kepada Musa q lalu dia meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari. Demi Allâh! Saya yakin Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hidup sehingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memotong tangan-tangan dan lisan orang-orang munafik yang mengira atau mengatakan bahwa Muhammad telah wafat.[1]

Dalam suasana mencekam akibat ketidak percayaan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu , Abu Bakr Radhiyallahu anhu dating ke tempat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar kematian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Radhiyallahu anhu tanpa banyak bicara langsung menuju ke jenazah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditutup dengan kain. Abu Bakr Radhiyallahu anhu menyingkap bagian kain yang menutupi wajah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu menangis. Abu Bakr Radhiyallahu anhu mencium kening Rasûlullâh sambil menangis. Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengatakan:

Demi bapak dan ibuku! Engkau tetap wangi ketika masih hidup dan juga setelah wafat.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Abu Bakr Radhiyallahu anhu setelah mencium kening Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah wafat, beliau Radhiyallahu anhu menangis dan mengatakan:

Demi bapakku! Wahai Nabi Allâh Azza wa Jalla! Allâh Azza wa Jalla tidak akan mengumpulkan padamu dua kali kematian. Sekarang kematian yang telah ditetapkan Allâh Azza wa Jalla untukmu telah engkau lalui.

Lalu beliau Radhiyallahu anhu keluar menemui Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu dan berusaha menenangkan beliau, namun tidak berhasil. Akhirnya Abu Bakr Radhiyallahu anhu membiarkan Umar Radhiyallahu anhu dalam ketidakpercayaannya lalu beliau Radhiyallahu anhu menghadapkan wajahnya kearah para Sahabat. Beliau mengawali pembicaraannya dengan membaca tasyahhud lalu mengatakan:      

Amma ba’du, barangsiapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allâh Azza wa Jalla , maka sesungguhnya Allâh maha hidup dan tidak akan mati.

Lalu Abu Bakr Radhiyallahu anhu membaca ayat:

Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati. [Az-Zumar/39:30]

dan juga membaca ayat:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada Allâh sedikit pun. Dan Allâh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Ali ‘Imrân/3:144]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan:

Demi Allâh! Seakan semua orang tidak ada yang mengetahui bahwa Allâh telah menurunkan ayat tersebut sampai Abu Bakr Radhiyallahu anhu membacakannya (kala itu), dan manusia mengambil ayat tersebut darinya.[2]

Umar Radhiyallahu anhu mengatakan, “Demi Allâh! Sesungguhnya aku seakan-akan belum pernah mendengar ayat ini sampai aku mendengar Abu Bakr Radhiyallahu anhu membaca ayat ini.  Sehingga saya lemas, saya tidak kuat berdiri dengan kedua kakiku dan jatuh ke tanah, ketika Abu Bakr Radhiyallahu anhu membacakan ayat tersebut. Saat itu, saya yakin bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Para Sahabat yang mendengar berita ini pun ikut menangis di masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Subhanallah Rasulullah adalah manusia yang paling dicintai oleh para sahabat beliau dan seluruh manusia di muka bumi ini yang mengaku sebagai seorang muslim. Sungguh berat ditinggalkan seseorang yang teramat sangat dicintai, sungguh Umar bin Khottob yang dijuluki “Al Faruq” pun merasakan pukulan terhebat itu sehingga tidak ada yang mampu meredakan amarah dan kesedihannya kecuali Kalamullah, dan demikianlah sifat orang beriman.

Wafatnya rasulullah adalah kesedihan bagi bumi ini dan manusia beriman yang hidup di dalamnya, bagaimana tidak? Rasulullah adalah kekasih Allah, seluruh kehidupannya dibimbing dan diberkahi oleh Allah sehingga bumi yang dipijaknya, keluarga yang mendampinginya, sahabat yang menemaninya, tetangga yang bersebelahan dengannya, binatang yang ditungganginya, jalan yang dilewatinya, seluruh apapun yang bersinggungan dengan beliau niscaya mendapatkan keberkahan dari Allah. Bahkan manusia yang hidup di jaman beliau menemui dan beriman kepada kenabian Beliau tercatat sebagai sebaik-baik manusia dibandingkan dengan mereka yang hidup dan beriman sesudah beliau meninggal.

Banyak sekali ibrah yang bisa kita ambil dari seluruh kehidupan beliau dari sejak lahir hingga meninggal karena beliau adalah uswatun hasanah. Salah satu ibrah yang bisa kita ambil adalah bagaimana kemuliaan beliau tidak luntur walaupun sudah meninggal. Sungguh benar-benar nampak bagaimana kecintaan para sahabat kepada Rasulullah sehingga mereka benar-benar terpukul dengan kabar meninggalnya beliau. Kesetiaan kepada Rasulullah tetap dibawa ke dalam sanubari para sahabat hingga kapanpun jua.

Begitulah kemuliaan yang Allah berikan kepada Rasulullah dan demikian pula untuk pengikut beliau yang setia terhadap Allah dan RasulNya. Lalu bagaimana dengan kita?

Ketika kita lahir banyak yang bahagia, tertawa riang gembira menyambut kehadiran kita. Akan tetapi ketika kita meninggal, adakah yang akan menangis kehilangan kita? Berapa banyak takziyah yang kita hadiri, akan tetapi banyak mereka yang datang untuk berbela sungkawa tidak ada yang menangis bahkan bercerita dengan temannya sambil tertawa. Jika ada yang menangis sebagian besar adalah keluarga yang ditinggal, bahkan ketika yang meninggal sudah usia lanjut seolah-olah kematiannya dianggap wajar oleh keluarganya sendiri sehingga tidak ada air mata yang terurai.

Sesungguhnya kematian seorang yang shalih akan mendatangkan tetesan air mata bagi orang beriman apalagi jika yang meninggal adalah ahli ilmu. Mereka yang datang untuk bertakziya jika ia seorang beriman pastilah menangis karena menyadari telah hilang penebar kebaikan dan penyeru kepada kebenaran. Bukankah ketika Allah hendak mencabut ilmu dari muka bumi ini Allah akan terlebih dahulu mewafatkan para ulama pewaris para nabi. Bahkan bumi dan langitpun akan menangis.

Sebaliknya jika yang meninggal adalah orang kafir maka tidak ada yang menangisinya kecuali mereka yang merasa kehilangan karena perkara dunia atau bersedih karena meninggalnya tidak dalam keadaan beriman.

Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan,

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhan: 29)

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya. Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya. Semantara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya. (Tafsir Ibn Katsir, 7:254).

Allah juga berfirman,

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang baik maupun yang buruk. Makna ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar. Beliau menyatakan:

Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman,

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. (Nailul Authar, 3:235).

 

Maka marilah kita tanyakan pada diri kita,

”ketika waktu perpisahan itu datang, adakah orang beriman yang menangis karena kehilangan kita? Akankah bumi yang kita pijak menangis karena kita tidak lagi beribadah di atasnya?

Kita tanyakan pada diri kita,

“akankah keluarga dan kerabat serta sahabat kita menangis karena keshalihan kita yang tidak akan mereka temui lagi atau justru mereka bahagia karena terbebas dari kejahatan kita”.

Semoga Allah menjadikan kita pelita keshalihan di dunia ini dan di akhirat kelak, sehingga kita layak bersama Rasulullah di Jannah kelak. amin

Leave a Comment