A L Q O Y Y I M

Loading

Sa’id bin Amir RA adalah seorang sahabat Muhajirin, yang memeluk Islam beberapa waktu sebelum terjadinya perang Khaibar. Pada jaman khalifah Umar beliau diangkat menjadi Gubernur di Homs.

Setelah beberapa bulan berlalu menduduki jabatan gubernur (Amir), dan secara ekonomi keluarga mereka mulai mantap, istrinya mengusulkan kepada Sa’id untuk membeli pakaian dan perlengkapan rumah tangga yang lebih baik, dan menyimpan sisanya sebagai tabungan. Mendengar saran istrinya tersebut, Sa’id berkata, “Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rencanamu itu…!!”

Setelah istrinya mengiyakan, Sa’id berkata, “Kita berada di suatu negeri yang perdagangan dan jual belinya amat pesat berkembang. Sebaiknya kita minta seseorang menggunakannya sebagai modal, tentu keuntungannya lebih besar….”

“Bagaimana kalau perdagangannya rugi?” Tanya istrinya
“Aku akan menyediakan borg atau jaminan untuk itu, bahwa kita tidak akan pernah merugi!!”
“Baiklah kalau begitu!” Kata istrinya, menyetujui usul suaminya tersebut.

Sa’id pergi sambil membawa uang tersebut ke pasar, kemudian membeli persediaan dan keperluan hidup keluarganya untuk beberapa waktu lamanya. Ia memilih dari jenis yang paling sederhana dan murah. Sisa uangnya yang masih banyak, dibagi-bagikan fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Beberapa bulan berlalu, sering sekali istrinya menanyakan tentang perdagangan dan keuntungannya. Sa’id mengatakan kalau semuanya lancar-lancar saja, dan keuntungannya makin banyak, hanya saja belum bisa segera diambil atau dicairkan.

Pada suatu ketika, istrinya menanyakan hal yang sama, sementara saat itu ada kerabatnya yang tahu bahwa Sa’id tidak mempunyai usaha perdagangan yang dijalankan orang lain. Ia tampak tidak mengerti dan bingung, dan istrinya menangkap isyarat itu. Akhirnya istrinya itu bertanya lagi dan mendesak Sa’id untuk menjelaskannya. Sa’id pun tertawa, kemudian menjelaskan apa adanya, bahwa harta tersebut memang dibelanjakan atau diperniagakan di jalan Allah. Ia tidak berdusta, keuntungannya akan jauh lebih besar dan bermanfaat bagi mereka berdua di akhirat kelak.

Istrinya menangis penuh sesal, dan air mata yang membasahi wajahnya makin menambah kecantikannya saja. Sa’id menyadari godaan kecantikan istrinya tersebut, dan ia tidak mengelak bahwa ia sangat mencintai dan takut kehilangan istrinya itu. Tetapi mata batinnya jauh menerawang, dan akhirnya menemukan sosok Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang telah mendahuluinya. Ia berkata tegas, “Aku mempunyai kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menemui Allah, dan aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka walau ditebus dengan dunia dan segala isinya…”

Kemudian untuk menegaskan sikap dan pendiriannya, ia berkata kepada istrinya, “Wahai istriku yang cantik, bukankah engkau tahu bahwa di surga itu banyak gadis-gadis yang cantik dengan matanya yang jeli memikat, seandainya satu orang saja menampakkan wajahnya di bumi, niscaya terang benderang-lah seluruh bumi, mengalahkan sinar matahari dan bulan….Maka, jika memang terpaksa, tidak mengapa aku mengorbankan dirimu (meninggalkanmu) untuk mendapatkan mereka, dan itu lebih logis dan utama, daripada harus mengorbankan mereka hanya untuk mempertahankan dirimu menjadi istriku!!”
Sa’id telah memasrahkan segalanya kepada Allah, tetapi memang berkah Allah telah meliputi keluarga mereka, sehingga istrinya bisa menerima kenyataan ini. Ia sadar tidak ada jalan yang lebih utama daripada mengikuti jalan yang dipilih suaminya, mengendalikan diri dengan sifat zuhud dan ketakwaan.

Leave a Comment