A L Q O Y Y I M
[siteorigin_widget class=”orion_image_w”][/siteorigin_widget]
[siteorigin_widget class=”orion_empty_space_w”][/siteorigin_widget]

Pernahkah anda jatuh cinta?

Sungguh berat untuk men­ jawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tidak.

Hampir setiap manusia pernah mengalami apa yang disebut “jatuh cinta”. Kalau ada yang menjawab tidak pernah, bisa jadi belum datang saja saat­ nya. Betapa banyak syair tergubah atas nama cinta dari syair Arab hingga Jawa, dari Cina hingga Eropa. Berapa banyak lagu tercipta dengan tema cinta irama “slow” hingga “Rock”. Tidak hanya syair maupun lagu bahkan kisah dari jenis cerpen hingga novel bahkan hingga berwujud film hampir laris dibaca dan dilihat bahkan dibeli.

Sebut saja roman Romeo, dan Juliet (Julia) karya William Shakespeare yang ditulis pada awal kariernya. Roman ini mengisahkan sepasang mempelai muda yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Yang mana kisah berakhir pada bunuh diri yang dilakukan keduanya karena tidak rela ditinggal mati oleh sang kekasih. Kisah ini tetap bertahan  berabad­ abad hingga sekarang karena kisah cintanya yang dianggap fenomenal oleh para penggemar kisah cinta, bahkan oleh para penyair, novelis dan para seniman dianggap sebuah “master piece” yang tidak ada tandingannya.

Jika kita mencermati kisah­kisah tersebut betapa kita akan kaget karena kisah­kisah yang dikarang oleh para seniman tersebut bukanlah kisah yang “happy ending” atau berakhir bahagia. Sungguh aneh sebenarnya bagaimana mungkin kisah cinta yang berakhir dengan kesedihan bisa digemari banyak orang. Akan tetapi satu hal yang pasti banyak orang tidak ingin mengalami kisah tersebut dalam kehidupan nyata mereka karena watak manusia yang ingin bahagia dan benci akan kesedihan.

Lalu bagaimana dengan kita umat Islam? Adakah kisah cinta dalam Islam? Jawabannya pastilah ada, bahkan para ulama sering mengatakan Al Qur’an adalah Surat Cinta dari Ar Rahman untuk orang beriman. Dua pertiga isi Al Qur’an adalah kisah, seluruh kisah yang tertera dalam Al Qur’ an semuanya nyata adanya. Kisah­kisah dalam Al Qur’an apapun jenisnya semuanya adalah Ibrah, pelajaran dan pelipur lara bagi mereka yang berjalan dijalan Allah. Adakah kisah cinta sepasang manusia dalam Al Qur’an? Jawabannya pastilah ada karena Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam, sumber hukum & pelajaran bagi seluruh manusia yang mau berpikir.

Kisah cinta sepasang manusia dalam Al Qur’an pastilah kisah manusia pertama itu sendiri yaitu kisah cinta Adam dan Hawa. Bukankah kita sering membaca dalam undangan walimah nikah  dan  juga doa untuk para pengantin kata­kata  “ semoga Allah menjadikan pengantin berdua sebagaimana Allah menyatukan Adam & Hawa”.

Adam tercipta sendiri di surga sebagai satu­satunya manusia yang ada. Melihat Adam yang sendirian lalu Allah pun menciptakan Hawa, manusia kedua yang berbeda dengan Adam karena Hawa adalah perempuan sedangkan Adam adalah laki­laki. Maka disebutlah mereka sepasang dan kisah­kisah selanjutnya ke­ banyakan tentang mereka adalah kisah mereka berdua bukan perindividu dan banyak ibrah di dalam kisah tersebut.

Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam yang paling bawah dan paling bengkok sebagai ibrah bahwa “Laki­-laki adalah pelindung perempuan tidak hanya pelindung raga tapi juga pelindung jiwa”. Allah memberi kelebihan kepada kaum laki-laki dalam hal fisik dan pikiran. Rusuk terbalut rapi dengan daging dan kulit bahkan kedua tangan siap menjadi tameng ketika ada yang ingin melukai. Rasulullah bersabda, “Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari rulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita.” (HR. Bukhari 3331 & Muslim 1468)

Betapa indahnya kisah Adam dan Hawa, sepasang kekasih hanya berdua di surga penuh bahagia tanpa ada kesedihan, penuh suka tanpa duka, ingin apa tinggal minta tidak direpotkan dengan urusan mencari nafkah. Allah berfirman,

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah  makanan-makanannya yang banyak lagi  baik  dimana  saja  yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang­orang yang zalim.” (Al­Baqarah/2:35)

Bukankah itu yang kita inginkan? bahagia tanpa nestapa. Indah memang akan tetapi singkat cerita Iblispun berhasil menggoda mereka berdua akhirnya diturunkanlah keduanya ke muka bumi ini dan terpisahlah Adam dan Hawa. Konon akhirnya mereka pun bertemu di Padang Arafah, sungguh indah & panjang kisah cinta Adam & Hawa.

Segala kesusahan yang dialami tidak akan memperlemah cinta yang ada bahkan akan memperkuat cinta tersebut. Akan tetapi jika cinta ber­ landaskan nafsu maka yang terjadi adalah penderitaan dan penyesalan karena Iblis dan bala tentaranya dengan bebas meng­ goda dan mengombang ambingkan hati & nafsu manusia. Betapa banyak manusia tidak mampu menahan diri “kala cinta datang menggoda” sehingga perzinaan terjadi begitu bebas­ nya. Betapa mudahnya manusia tergoda dengan pandangan pertama dan Iblispun benar benar melemparkan anak panahnya bersamaan dengan pandangan pertama.

Sungguh kala cinta datang menggoda memang hati terasa bahagia yang luar biasa akan tetapi justru itulah ujiannya di dalam kebahagiaan tersebut menyusuplah Iblis dan bala tentaranya sebagaimana racun yang dimasukkan dalam manisnya susu sehingga tidak terasa racunnya sama sekali.

Sebagai penutup cukup lah perkataan Nabi Yusuf yang Allah cantumkan dalam Al Qur’an, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Yusuf: 53)

Semoga Allah mengaruniakan belas kasih Nya kepada kita sehingga cinta yang berbalut nafsu dapat kita kalahkan sehingga cinta berlandaskan taqwa lah yang akan berlabuh di hati kita. Amin

Related Post

Leave a Comment