Mualaf Ini Kehilangan Rumah, Tetapi Tidak Kehilangan Iman
Di usia yang tak lagi muda, Suminah masih setia meracik semangkuk soto untuk dijual di pinggir jalan. Warungnya sangat sederhana, terbuat dari bambu, sekadar mendekati cukup untuk menyambung hidup bersama anak dan cucunya.
Namun, sedikit orang yang tahu bahwa di balik kesibukannya melayani pembeli, Bu Suminah menyimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang.
Setiap sore, ketika warung mulai sepi, ia masih bertanya dalam hati, “Besok kami akan tinggal di mana?”
Dari Rumah Gereja Menjadi Tanpa Tempat Tinggal
Bertahun-tahun Bu Suminah tinggal di sebuah gereja di wilayah Polokarto, Sukoharjo. Rumah itu menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami, Joko Lelono, yang mengabdikan hidup sebagai pendeta.
Setelah Pak Joko wafat, keadaan berubah. Bu Suminah, anak yang sudah masuk Islam beserta cucunya harus menghadapi kenyataan pahit: mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal yang pasti.
Memilih Islam, Memulai Hidup dari Awal
Di tengah semua itu, Bu Suminah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Mengikuti jejak anaknya yang lebih dahulu memeluk Islam, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang mualaf.
Keputusan itu menghadirkan ketenangan dalam hati, tetapi juga membuka lembaran perjuangan baru.
Kini, satu-satunya tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai tempat berteduh hanyalah warung soto sederhana di tepi jalan. Tempat itu bukan rumah. Tidak cukup aman untuk menjadi tempat tinggal sebuah keluarga, terlebih saat hujan turun atau malam mulai larut.
Meski demikian, Bu Suminah tidak kehilangan harapan.
Dengan suara lirih, ia mengungkapkan keinginannya yang sangat sederhana.
“Harapan saya cuma satu… saya, anak dan cucu saya ada tempat untuk berteduh dan tidak kepanasan atau kehujanan.”
Kepedulian Tetangga Menjadi Titik Awal Harapan
Di tengah kesulitan yang dihadapi, secercah harapan datang dari lingkungan sekitar.
Seorang warga dengan tulus meminjamkan sebagian pekarangannya agar Bu Suminah dapat mendirikan rumah sederhana. Statusnya bukan tanah milik, melainkan magersari, dipinjamkan sebagai tempat tinggal hingga akhir hayat Bu Suminah.
Tanah itu sudah tersedia.
Namun tanah kosong belum bisa melindungi siapa pun dari panas dan hujan.
Rumah sederhana berukuran sekitar 6 x 4 meter dengan perkiraan biaya sekitar Rp50.000.000 masih perlu diwujudkan agar keluarga kecil ini memiliki tempat bernaung yang layak.
Saatnya Gotong Royong Mewujudkan Sebuah Rumah
Kisah Bu Suminah sampai kepada para donatur melalui LAZ Al Qoyyim.
Bersama amanah yang dititipkan masyarakat, LAZ Al Qoyyim berikhtiar membersamai pembangunan rumah sederhana untuk Bu Suminah. Bukan sekadar membangun dinding dan atap, tetapi menghadirkan tempat yang dapat disebut sebagai rumah bagi seorang ibu, anak, dan cucunya.
Rumah itu mungkin tidak besar.
Namun di sanalah mereka dapat beristirahat tanpa takut kehujanan, salat dengan tenang, dan menjalani hari-hari dengan lebih bermartabat.
Mari Menjadi Bagian dari Harapan Bu Suminah
Tidak semua orang meminta rumah yang megah.
Bu Suminah hanya berharap keluarganya memiliki tempat berteduh yang sederhana, tempat mereka tidak lagi kepanasan saat matahari terik dan tidak lagi kebasahan saat hujan turun.
Tanah untuk rumah itu telah tersedia. Kini, saatnya kita bergotong royong menghadirkan bata, semen, kayu, dan atap agar harapan itu benar-benar berdiri.
Mari menjadi bagian dari jalan kebaikan untuk menghadirkan rumah layak huni bagi Bu Suminah dan keluarganya.
BSI: 22-888-3333-8 a.n. Yayasan Al Qoyyim
Konfirmasi: 0823-2708-0840
Karena terkadang, hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada seseorang bukanlah sebuah bangunan, melainkan rasa tenang karena akhirnya memiliki tempat untuk pulang.