Dua Hari Menunggu Demi Satu Lubang Kancing

Lubang Kancing

Di sebuah rumah sederhana yang dindingnya bahkan belum seluruhnya diplester di Kelurahan Banmati, Sukoharjo, suara mesin jahit menjadi bagian dari keseharian Setyowati. Perempuan 45 tahun itu bukan sekadar menjahit pakaian. Dari setiap helai kain yang ia rapikan, tersimpan harapan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga.

Empat tahun lalu, Bu Setyowati mulai merintis usaha jahit sebagai pekerjaan sampingan. Penghasilan suaminya belum cukup untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, sehingga ia memilih memanfaatkan keterampilannya agar dapur tetap bisa mengepul.

Usahanya memang masih sederhana. Dengan omzet sekitar Rp600.000 setiap bulan, ia menerima berbagai pesanan jahitan dari tetangga dan warga sekitar. Sedikit demi sedikit, kepercayaan pelanggan mulai tumbuh.

Namun di balik setiap pakaian yang selesai dijahit, ada satu pekerjaan yang selalu membuatnya harus menunggu.

Ketika Lubang Kancing Menjadi Hambatan

Menjahit baju bukan hanya menyambung potongan kain. Ada tahap akhir yang menentukan hasilnya terlihat rapi dan siap dipakai, yaitu membuat lubang kancing.

Sayangnya, Bu Setyowati belum memiliki mesin itik, mesin khusus pembuat lubang kancing.

Setiap kali mendapat pesanan baju, ia harus membawa hasil jahitannya ke penjahit lain yang memiliki mesin tersebut.

Bukan sekali jadi.

Sering kali ia harus mengantre hingga dua hari hanya untuk membuat lubang kancing.

Akibatnya, pesanan pelanggan ikut tertunda. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menerima pekerjaan baru justru habis karena menunggu giliran.

Bukan karena ia tidak mampu menjahit, tetapi karena satu alat yang belum ia miliki.

Sebuah Mesin, Sebuah Harapan Baru

Perjuangan Bu Setyowati akhirnya sampai kepada para donatur yang mempercayakan zakatnya melalui LAZ Al Qoyyim.

Melalui Program Bina Insan Berdaya, pada Senin, 27 Juli 2026, Tim Pendayagunaan menghadirkan sebuah mesin itik senilai Rp2.300.000 untuk mendukung usaha jahit yang selama ini ia jalankan.

Bagi sebagian orang, mesin itu mungkin hanya sebuah peralatan kerja.

Namun bagi Bu Setyowati, mesin tersebut adalah kesempatan untuk bekerja lebih mandiri, menyelesaikan pesanan lebih cepat, dan melayani pelanggan tanpa harus bergantung kepada penjahit lain.

Dengan mata yang berbinar, ia mengungkapkan rasa syukurnya.

“Dulu saya harus antri dua hari ke penjahit lain untuk buat lubang kancing kalau ada pesanan buat baju. Dengan adanya mesin itik ini, insya Allah saya tidak perlu antri lagi seperti dulu karena bisa saya kerjakan sendiri.”

Zakat yang Menguatkan Kemandirian

Zakat tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam banyak keadaan, zakat juga dapat menjadi penguat agar seseorang mampu bangkit melalui usaha yang ia miliki.

Kini Bu Setyowati dapat menyelesaikan seluruh proses menjahit di rumahnya sendiri. Waktu produksi menjadi lebih singkat, kapasitas menerima pesanan pun diharapkan meningkat.

Semoga dari suara mesin itik yang mulai bekerja itu lahir semakin banyak rezeki yang halal, keberkahan bagi keluarganya, dan langkah menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Mari Hadirkan Lebih Banyak Kisah Bangkit

Masih banyak pelaku usaha kecil seperti Bu Setyowati yang memiliki keterampilan dan semangat bekerja, tetapi terkendala oleh keterbatasan alat maupun modal.

Melalui zakat yang Anda titipkan, lebih banyak keluarga dapat dikuatkan untuk terus berusaha, meningkatkan penghasilan, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan.

Mari menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan lebih banyak kisah bangkit melalui zakat.

BSI
22-888-3333-8
a.n. Yayasan Al Qoyyim

Konfirmasi: 0823-2708-0840

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *