Empat Bulan Kekeringan, Warga Kepuh Tempuh 2 KM Demi Air

empat bulan kekeringan

Empat bulan terakhir, warga Desa Kunden, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, harus menjalani hari-hari dengan air yang semakin sulit didapat.

Kekeringan paling terasa di wilayah perbukitan dan pegunungan. Di sana, sumur-sumur warga mulai mengering. Instalasi Pamsimas memang masih tersedia, tetapi debit airnya sangat kecil karena kemarau yang berkepanjangan.

Di Dukuh Sumberagung, sedikitnya 50 KK terdampak. Sementara di Dukuh Pencil, ada sekitar 35 KK, dan Dukuh Kepuh sekitar 70 KK yang menghadapi kesulitan serupa.

Bagi warga, air bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, membersihkan diri, hingga memberi minum ternak yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Untuk Mendapatkan Air, Mereka Harus Berjalan Jauh

Ketika sumur di sekitar rumah tak lagi bisa diandalkan, warga harus mencari sumber air lain.

Warga Sumberagung harus berjalan sekitar 2 kilometer menuju sumber air alami terdekat. Bagi warga Dukuh Pencil, jaraknya bahkan mencapai 4 kilometer.

Jarak tersebut harus ditempuh ketika kebutuhan air tidak bisa ditunda.

Bu Mugiman, warga Sumberagung RT 03/RW 01, merasakan sendiri beratnya kondisi tersebut. Menurutnya, salah satu yang paling terasa adalah ketika harus menyediakan air untuk sapi, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Bantuan air kemudian menjadi sesuatu yang sangat dinantikan.

“Ayem kalau ada bantuan air datang,” ujar Bu Mugiman.

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa berharganya air bagi warga di tengah kekeringan.

8.000 Liter Air Habis dalam 15 Menit

Besarnya kebutuhan warga terlihat ketika bantuan air bersih pernah hadir di Dukuh Kepuh pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Sebanyak 8.000 liter air didatangkan untuk warga.

Namun air sebanyak itu habis hanya dalam waktu sekitar 15 menit.

Warga berbondong-bondong membawa galon, ember, dan berbagai wadah yang mereka miliki. Air yang datang segera dipindahkan dan dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan masing-masing keluarga.

Sebagian bahkan harus memikul wadah air tersebut.

Pemandangan itu menunjukkan bahwa kebutuhan air di wilayah ini bukan persoalan kecil. Ketika air datang, warga tidak menyia-nyiakannya sedikit pun.

Satu Tangki Air, Banyak Keluarga yang Menunggu

Bagi warga yang tinggal di daerah yang airnya mudah diperoleh, satu tangki air mungkin terasa biasa.

Namun bagi warga Kunden yang telah empat bulan menghadapi kekeringan, air yang datang adalah sesuatu yang menghadirkan rasa lega.

Sumur yang mengering membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan. Sumber air alami pun berada beberapa kilometer dari rumah. Sementara kebutuhan terus berjalan setiap hari.

Ada keluarga yang membutuhkan air untuk minum dan memasak. Ada yang harus menyediakan air untuk ternak. Ada pula kebutuhan kebersihan yang tidak mungkin ditinggalkan.

Karena itu, setiap bantuan air yang datang bukan hanya mengisi bak atau jeriken. Ia mengisi kembali sedikit rasa tenang di tengah ketidakpastian.

Dan seperti kata Bu Mugiman, “Ayem kalau ada bantuan air datang.”

Mungkin kita tidak pernah membayangkan harus berjalan 2 hingga 4 kilometer hanya untuk mendapatkan air.

Mungkin kita juga tidak pernah membayangkan melihat ribuan liter air habis hanya dalam hitungan menit.

Tetapi bagi puluhan keluarga di pelosok Kunden, itulah kenyataan yang mereka jalani hari ini.

Sampai kapan mereka harus menunggu air berikutnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *