Menolak Murtad Demi Islam, Kini Anaknya Bisa Menuntaskan Sekolah
AK tak pernah membayangkan bahwa memilih Islam akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Bukan hanya kehilangan rumah dan keluarga, tetapi juga harus menghadapi pilihan yang begitu berat: mempertahankan iman atau menerima bantuan dengan syarat meninggalkan Islam.
Perempuan kelahiran 1974 itu kini menjalani hari-harinya sebagai buruh cuci di wilayah Mojolaban, Sukoharjo. Penghasilannya tak seberapa, namun dari pekerjaan itulah ia berusaha menghidupi suami dan kedua anaknya.
Sejak memeluk Islam pada 2019, ujian demi ujian datang silih berganti. Namun, di tengah keterbatasan ekonomi, AK memilih tetap bertahan.
Memilih Islam, Kehilangan Tempat Pulang
Sebelum menjadi mualaf, AK beragama Katolik. Perjalanan hijrahnya bukanlah kisah yang mudah.
Ia pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga hingga akhirnya memutuskan meninggalkan suaminya demi menyelamatkan diri. Ketika kemudian memeluk Islam bersama anaknya, cobaan berikutnya datang dari lingkungan keluarga sendiri.
Alih-alih mendapatkan dukungan, AK justru diusir oleh saudara-saudaranya karena dianggap telah meninggalkan keyakinan lama.
Sejak saat itu, ia harus memulai hidup dari awal.
Kini AK tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang dipinjamkan dengan biaya sangat murah oleh teman-teman pengajian. Setiap bulan ia hanya membayar sekitar Rp100.000 agar tetap memiliki tempat berteduh bersama keluarganya.
Ketika Anak Lulus Sekolah, Masalah Baru Datang
Di tengah perjuangan mencari nafkah sebagai buruh cuci, AK menyimpan satu harapan besar: melihat anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Harapan itu sempat terasa begitu dekat ketika anak pertamanya dinyatakan lulus sekolah pada akhir tahun ajaran 2025/2026.
Namun kebahagiaan itu belum benar-benar utuh.
Masih ada tunggakan biaya sekolah yang harus diselesaikan. Penghasilan dari mencuci pakaian orang lain tidak cukup untuk melunasi kewajiban tersebut.
Bagi seorang ibu, melihat anak berhasil menyelesaikan pendidikan seharusnya menjadi momen penuh syukur. Namun bagi AK, kebahagiaan itu bercampur kecemasan karena belum tahu dari mana biaya pelunasan akan didapatkan.
Bantuan Datang dengan Syarat yang Menyesakkan
Dalam keadaan terdesak, AK mencoba menghubungi keluarganya.
Ia berharap masih ada tangan yang bersedia membantu meringankan beban tersebut.
Jawaban yang diterimanya justru menjadi ujian keimanan yang sangat berat.
Keluarganya bersedia memberikan bantuan, tetapi dengan satu syarat: AK dan anaknya harus kembali meninggalkan Islam.
Pilihan itu tentu bukan perkara sederhana.
Di satu sisi, ia ingin anaknya dapat menyelesaikan seluruh kewajiban sekolah tanpa beban. Di sisi lain, ia tidak ingin menukar keyakinan yang telah dipilihnya dengan bantuan sesaat.
AK memilih bertahan.
Baginya, mempertahankan iman jauh lebih berharga daripada mengorbankannya demi menyelesaikan persoalan dunia yang bersifat sementara.
Harapan Itu Hadir dari Kepedulian Sesama
Kisah perjuangan AK akhirnya sampai kepada para donatur yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya melalui LAZ Al Qoyyim.
Melalui Program Peduli Mualaf, Tim Pendayagunaan LAZ Al Qoyyim datang menemui AK pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Bukan sekadar membawa bantuan tunai sebesar Rp500.000, tetapi juga menghadirkan keyakinan bahwa masih banyak orang yang peduli kepada mereka yang sedang berjuang mempertahankan iman.
Bantuan tersebut digunakan untuk membantu melunasi tunggakan sekolah anak pertamanya.
Dengan demikian, salah satu beban yang selama ini menghantui keluarga kecil itu akhirnya dapat terangkat.
Kini AK Bisa Bernapas Lebih Tenang
Bagi sebagian orang, nominal bantuan itu mungkin tampak sederhana.
Namun bagi AK, bantuan tersebut menghadirkan ketenangan yang telah lama ia rindukan.
Anaknya kini dapat menyelesaikan urusan sekolah tanpa lagi dibayangi tunggakan.
Di balik senyum yang mulai kembali terlihat, AK menyampaikan rasa syukurnya kepada seluruh donatur yang telah menjadi jalan pertolongan.
“Terima kasih kepada para donatur Al Qoyyim. Semoga Allah membalas segala kebaikan dan menjadikannya sebab keberkahan bagi keluarga Bapak dan Ibu semua.”
Doa sederhana itu lahir dari seseorang yang telah merasakan bahwa kepedulian orang-orang yang bahkan belum pernah ditemuinya mampu menguatkan langkahnya untuk tetap bertahan.
Menjadi Bagian dari Harapan Mereka yang Bertahan
Masih banyak saudara-saudara mualaf yang menghadapi ujian serupa. Sebagian kehilangan dukungan keluarga, sebagian kehilangan pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang harus memulai hidup dari nol setelah memilih Islam.
Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga keyakinan bahwa masih ada saudara seiman yang siap menemani perjalanan mereka.
Ketika kepedulian dipertemukan dengan kebutuhan yang nyata, harapan pun dapat kembali tumbuh.
Jika Anda ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menguatkan para mualaf dan keluarga dhuafa yang sedang berjuang, Anda dapat menyalurkan infak terbaik melalui:
BSI: 22-888-3333-8 a.n. Yayasan Al Qoyyim
Konfirmasi: 0823-2708-0840