Kisah Singkat Amil

Hampir setiap pagi sekitar pukul delapan, Nurrahman memulai harinya. Dengan ransel di punggung dan motor matic-nya, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain—warung, rumah, hingga sudut-sudut kampung tempat kotak infaq dititipkan.
Ia menyapa hangat, mencatat, dan menghitung setiap isi kotak dengan teliti. Langkahnya ringan, meski jarak yang ditempuh bisa puluhan kilometer dalam sehari.
Saat adzan berkumandang, Nurrahman segera menepi, memarkir motor, dan menuju masjid terdekat untuk shalat. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanan.
Hampir setiap hari seperti itu. Bagi Nurrahman, ini bukan sekadar tugas, tapi wujud dari amanah—menjemput kebaikan dan mengantarkannya kembali kepada yang berhak.