Membangun Pemimpin Berdaya, Mewujudkan Lembaga Berdampak

Suatu pagi di sebuah lembaga filantropi kecil, para relawan sibuk menyiapkan paket bantuan. Namun di balik semangat itu, ada kegelisahan: laporan keuangan berantakan, program tumpang tindih, dan arah gerak lembaga mulai kabur. Hingga datang seorang pemimpin baru. Ia tak datang membawa perintah, melainkan telinga yang mau mendengar.

Ia turun ke lapangan, menyapa penerima manfaat, dan memahami persoalan bukan dari data, tapi dari nurani. Ia tak banyak bicara tentang target, tapi tentang niat. “Kita bukan sekadar menyalurkan bantuan,” katanya, “kita sedang menyalakan harapan.”

Perlahan, lembaga itu berubah. Ia menanamkan budaya amanah, membangun kepercayaan, dan menjadikan setiap rapat sebagai ruang tumbuh bersama. Ia bukan bos, tapi teladan. Ia bukan pengontrol, tapi penggerak. Di tangannya, lembaga kecil itu menjelma menjadi gerakan besar — bukan karena banyaknya dana, tetapi karena kuatnya makna dan arah.

Dari kisah ini kita belajar, kepemimpinan dalam filantropi bukan soal jabatan, tapi tentang keberanian menuntun dengan hati. Pemimpin sejati bukan yang memerintah, tapi yang menyalakan semangat melayani.

Dan jangan lupa — kesempatan untuk belajar lebih dalam tentang hal ini akan hadir dalam Workshop Leadership and Fundraising: Forum for Philanthropy Leaders, pada 25 November 2025 di Multazam Hotel. Anda bisa bergabung sebagai peserta, atau berkolaborasi sebagai mitra.
Mari bersama menumbuhkan kepemimpinan yang berdaya dan berdampak bagi ummat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *