Air Mata di Emper Rumah: Ketika Satu Keluarga Duafa Diuji Sakit Bersamaan

Sahabat Kebaikan yang dirahmati Allah, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang harus menyaksikan tiga anak tercinta, sekaligus dirinya sendiri, terbaring sakit dalam waktu yang bersamaan?

Pada Senin, 8 Juni 2026, Tim Pendayagunaan LAZ Al Qoyyim melangkah menuju sebuah rumah sederhana di Sukoharjo. Di emper rumah itulah, kami menemui Bu Anna Suryaning. Seorang ibu tangguh yang saat ini sedang berdiri di tengah badai ujian yang begitu hebat.

Di sana, kami bertemu dengan ananda Muhammad Fahdli (10 tahun). Pertengahan 2025 lalu, Fahdli memang sudah menjalani operasi besar pengangkatan kista di otaknya. Namun, perjuangan Fahdli belum selesai. Hasil pemeriksaan radiologi terbaru di kepalanya menunjukkan tiga kondisi medis yang cukup kompleks:

  • Subarachnoid cyst pada cerebellopontin angle kanan: Artinya, masih ada kantung berisi cairan (kista) yang tumbuh di area sensitif otak bagian belakang sebelah kanan—area yang mengontrol keseimbangan dan fungsi saraf penting.
  • Sinusitis ethmoidalis bilateral dan maksilaris bilateral: Infeksi atau peradangan parah pada rongga sinus di kedua sisi pipi dan di antara kedua mata.
  • Hipertrofi concha nasalis media et inferior bilateral: Pembengkakan pada struktur bagian dalam hidung di kedua sisi, yang membuat jalur pernapasannya tersumbat parah.

Dampaknya sangat memilukan. Pasca-operasi, Fahdli sering kehilangan keseimbangan. Tubuh kecilnya tiba-tiba limbung dan jatuh, hingga ia terpaksa harus merangkak untuk berpindah tempat. Tidak hanya fisik, sarafnya yang terganggu membuat Fahdli kerap kehilangan kendali atas emosinya, memicu kemarahan yang meledak-ledak. Demi kesembuhannya, setiap pekan Fahdli harus berjuang mengitari koridor rumah sakit untuk kontrol ke 4 dokter spesialis sekaligus: Saraf, Psikiater, Rehab Medik, dan Terapi Okupasi (OT).

Badai yang Belum Mau Beranjak

Ujian Bu Anna tidak berhenti di Fahdli. Ketika kami berbincang, gurat lelah di wajahnya tak mampu menyembunyikan kenyataan pahit lainnya:

  • Anak sulungnya, Belin, mengalami kondisi langka di mana ia tidak bisa bernapas lewat hidung, sehingga harus bergantung pada mulutnya untuk menghirup udara.
  • Anak bungsunya, Dimas, pada Mei 2026 kemarin harus dilarikan ke rumah sakit akibat infeksi pencernaan akut. Sisa makanan yang gagal dicerna di ususnya tersumbat, hingga tim medis harus memasang selang lewat hidung untuk menyedot cairan tersebut keluar.
  • Bahkan, Bu Anna sendiri saat ini tengah berjuang melawan penyumbatan pembuluh darah di leher belakang bagian kanan.

Akibat badai sakit yang datang bertubi-tubi ini, sang suami terpaksa harus berhenti total dari pekerjaannya sebagai kuli bangunan serabutan demi membantu merawat ketiga anak mereka yang opname.

Bu Anna, yang dulunya bekerja di luar rumah, kini hanya bisa membuka warung minuman kecil-kecilan di emper rumah. Namun, modal dan omsetnya kian habis tak bersisa, karena 4 dari 7 hari dalam sepekan waktunya habis untuk mengantar Fahdli berobat.

Secara rilis data kesejahteraan, keluarga Bu Anna berada di status Desil 2 (keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah/sangat miskin).

Tembok BPJS dan Beban Karbohidrat

Memang biaya rumah sakit dicover BPJS, Mas. Tapi obat saraf khusus Fahdli harus menebus sendiri karena tidak ditanggung,” lirih Bu Anna dengan mata berkaca-kaca.

Beban itu kian berat ketika dokter memberikan instruksi medis yang ketat: Fahdli dilarang keras mengonsumsi karbohidrat seperti nasi dan roti, padahal itulah makanan yang paling murah dan mudah didapat oleh keluarga ini.

Fahdli diwajibkan mengonsumsi protein hewani (daging, ikan, telur) untuk memulihkan saraf otaknya. Bagi keluarga yang dapurnya sedang goncang dan hanya berharap pada recehan hasil jualan es di emperan, memenuhi kebutuhan protein setiap hari adalah kemewahan yang teramat sulit dijangkau.

Mari Nyalakan Harapan untuk Keluarga Bu Anna

Sahabat, Allah tidak pernah salah mengirimkan ujian, dan Allah juga tidak pernah keliru menggerakkan hati kita untuk membaca kisah ini. Hari ini, mari kita hadir sebagai jawaban atas doa-doa malam Bu Anna.

LAZ Al Qoyyim mengajak Anda semua untuk bersama-sama meringankan beban keluarga ini melalui bantuan tebus obat saraf, pemenuhan gizi protein hewani untuk Fahdli, serta bantuan biaya hidup darurat selama masa pemulihan.

Disclaimer Kemanusiaan: Dana yang digalang melalui program ini akan disalurkan secara berkala dan akuntabel untuk keluarga Bu Anna. Jika donasi telah terpenuhi atau terdapat kelebihan, maka akan dialokasikan secara transparan untuk membantu keluarga duafa sakit lainnya yang mengalami kondisi darurat serupa.

Mari ulurkan tangan, berikan infak dan sedekah terbaik Sahabat melalui LAZ Al Qoyyim. Sekecil apa pun kepedulian kita, adalah napas baru bagi perjuangan Fahdli dan keluarganya, serta keluarga pejuang kesembuhan lainnya.

  • BSI: 22-888-3333-8 a.n. Yayasan Al Qoyyim
  • Konfirmasi/Jemput Donasi: 0823-2708-0840 (CS LAZ Al Qoyyim)
  • Donasi Online: tabungamal.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *