Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka (Qu Anfusakum wa Ahlikum Naro)
Oleh Ust. Drs. Arif Siswanto hafizahullah
Ikhwatal iman sekalian, ada satu maudhu’ (tema) yang kita landaskan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Ayat ini memerintahkan kepada kita sekalian, sejatinya perintahnya itu singkat di depan, diawali dengan satu seruan harfun nida’ kepada orang-orang yang beriman. Khitab-nya ditujukan kepada orang-orang yang beriman dengan satu seruan: “Jagalah diri kamu sekalian dan keluarga kamu sekalian (ahli kamu sekalian) dari api neraka.” Ringkas saja.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan kepada kita tentang ahwal atau ikhwalnya (keadaan) neraka, yakni:
Di neraka itu ada malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka keras dan kasar bukan karena maksiat kepada Allah, melainkan terhadap apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan malaikat itu selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pertanyaannya, bagaimana cara agar keluarga kita ini dimudahkan menuju jannah dan dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari api neraka? Jadi, judulnya adalah seputar “Qu anfusakum wa ahlikum naro” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).
Tiga Pilar Membina Keluarga Inti
Tathbiq (penerapan) dari upaya agar diri kita sendiri maupun keluarga inti kita, keluarga inti di sini berarti istri dan anak-anak yang lahir dari pernikahan, bisa menjaga mereka dari neraka dan masuk ke dalam jannah-Nya Allah, ternyata membutuhkan beberapa tahapan. Posisi seorang suami atau bapak di sini adalah sebagai mas’ul (penanggung jawab), sebagaimana yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Berdasarkan hal tersebut, langkah-langkahnya adalah:
- Doa (Langkah pertama dan utama).
- Qudwah Hasanah (Keteladanan yang baik).
- Tarbiyah bil Hubbi wal Hiwar (Pendidikan yang dilandasi rasa cinta dan dihadirkan lewat dialog yang baik bersama istri dan anak-anak).
1. Mengapa Doa Menjadi yang Pertama?
Mengapa justru doa yang menempati urutan pertama? Hal ini dilandaskan pada riwayat:
Doa adalah senjatanya orang-orang yang beriman, (Al-Albani: Maudu).
Doa merupakan senjata yang sangat penting bagi orang beriman agar apa yang menjadi hajat dan keinginannya terwujud. Termasuk untuk merealisasikan langkah berikutnya, seperti memberikan qudwah hasanah atau qudwah shalihah (keteladanan yang baik), itu semua menghajatkan untuk dilambari (didasari) dengan doa terlebih dahulu.
Hal ini diambil dari dalil ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taklif (beban perintah) kepada Nabi Musa Alaihis Salam dan Nabi Harun:
“Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” (QS. Thaha: 24)
Pekerjaan pertama yang dilakukan oleh Nabi Musa sebelum datang kepada Firaun untuk melaksanakan tugas berat itu adalah berdoa terlebih dahulu. Beliau merasakan adanya kelemahan dan kekurangan secara manusiawi. Posisi Nabi Musa di hadapan Firaun ini sangat berat, tetapi karena beliau adalah utusan Allah, beliau memohon kekuatan lewat doa:
“Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku untuk bisa menerima kebenaran-Mu ini lebih banyak dan lebih luas lagi. Dan mudahkanlah aku untuk melaksanakan perintah-Mu (mendatangi Firaun). Serta lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka bisa memahami perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28)
Kita tahu sejarahnya bahwa Nabi Musa di masa kecilnya pernah disodorkan pilihan antara roti dan bara api. Beliau tertarik pada warna bara api yang menarik, lalu mengambil dan memasukkannya ke dalam mulut. Efek panjangnya, lidah beliau menjadi agak kelu (kaku) untuk mengucapkan sesuatu. Menghadapi Firaun dengan kondisi lidah yang kelu tentu terasa sangat berat bagi beliau.
Bahkan, Nabi Musa mengajukan “proposal tambahan” kepada Allah:
Beliau meminta agar Harun, saudaranya, diangkat juga menjadi nabi untuk menguatkan tugasnya, karena Nabi Harun dinilai lebih fasih dalam berkata-kata dan mengajukan argumentasi.
Dari kisah Nabi Musa ini, kita belajar dua hal penting tentang doa:
- Iftiqar (Merasa Fakir & Lemah): Nabi Musa merasa tidak mampu menghadapi tugas berat ini jika tidak ditolong oleh Allah.
- Hasil Akhir adalah Hak Prerogatif Allah: Seseorang harus sadar bahwa ia tidak menguasai atau bisa memastikan hasil akhir. Hati manusia itu berada di antara jemari Ar-Rahman, yang Allah bolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.
Maka, ketika kita mendapat perintah “Qu anfusakum wa ahlikum naro”, senjata pertama yang kita gunakan adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Adab Berdakwah dan Menjaga Kemurnian Risalah
Berdoa sebelum berdakwah kepada keluarga adalah bagian dari adab. Tugas kita sebagai dai sejatinya adalah memelihara dan menjaga kemurnian pesan (risalah). Orang berdakwah tidak boleh mendisrupsi, mengurangi esensi, atau memotong bobot pesan hanya agar dakwahnya mudah diterima oleh manusia. Mboten pareng dienteng-entengke (tidak boleh disepelekan).
Ingat hadis tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab? Hadis tersebut menceritakan keadaan para nabi di hari kiamat:
Ada nabi yang dikumpulkan bersama rahtun (sekelompok pengikut sekitar 10-12 orang). Ada nabi yang pengikutnya cuma satu orang. Ada nabi yang pengikutnya dua orang. Bahkan, ada nabi yang dikumpulkan tanpa memiliki pengikut sama sekali.
Nabi-nabi tersebut tetap menjaga kemurnian dakwah mereka meskipun tidak ada yang mengikutinya. Mereka tidak mengurangi bobot syariat demi mencari pengikut.
Berbeda dengan fenomena zaman sekarang. Kadang demi mendapatkan banyak follower atau like, sebagian orang menyampaikan hal-hal yang hanya menyenangkan manusia saja, bahkan sampai ikut berjoget-joget. Tugas utama kita adalah menjaga kemurnian pesan tersebut.
3. Pentingnya Menguasai Lisanul Qaum (Bahasa Kaum)
Kita harus bisa mengartikulasikan dan meliterasikan pesan dakwah ini semurni dan sebaik mungkin agar kadar yang diterima oleh objek dakwah sama dengan kadar aslinya. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim:
Allah menyesatkan atau memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki setelah adanya bayan (penjelasan) yang cukup. Penjelasan itu harus menggunakan bahasa yang dipahami oleh objek dakwah (lisanul qaum).
Bagi kita yang bukan orang Arab, kita mengambil ilmu dari sumber aslinya (mashadir) menggunakan bahasa Arab. Namun, ketika menyajikannya kepada masyarakat awam yang tidak berbahasa Arab, kita harus menerjemahkannya tanpa mengurangi bobot pesan.
Kalau ilmu dari sana hanya di-copy-paste mentah-mentah ke sini tanpa disesuaikan dengan bahasa kaum, wong kene ra bakal mudeng (orang sini tidak akan paham). Makanya kadang kita temui ada orang pintar tapi tidak bisa berdakwah di tengah kaumnya. Sebaliknya, ada yang ilmunya pas-pasan, tetapi dakwahnya mudah diterima karena penguasaan lisanul qaum-nya baik.
Saya yakin antum semua dalam batas tertentu adalah dai. Entah itu sekadar mengisi kultum Ramadan, atau mendadak diminta khotbah Jumat karena khatibnya sakit. Kalau mendadak diminta khotbah, jangan sampai naik mimbar lalu bilang, “Pangapunten para jamaah, kulo niku didadak…” (Mohon maaf jamaah, saya ini ditunjuk secara mendadak).
Kalimat seperti itu mengandung jebakan setan. Kalau nanti khotbahnya terbata-bata, orang akan maklum karena mendadak. Tapi kalau khotbahnya ternyata lancar dan bagus, orang akan memuji, “Wah, mendadak saja sebagus itu, apalagi kalau dipersiapkan.” Ini bisa menjebak kita ke dalam riya.
4. Qudwah Hasanah: Belajar dari Apa yang Dilihat
Setelah memperbaiki diri dan berdoa, langkah selanjutnya adalah Qudwah Hasanah (keteladanan yang baik). Ada sebuah kaidah bagus:
Keluarga atau anak-anak itu belajar dari apa yang mereka lihat, bukan sekadar dari apa yang mereka dengar.
Tentu mendengar itu tetap ada porsinya, tetapi maksudnya adalah ucapan yang didengar harus jumbuh (selaras/munasabah) dengan tindakan yang dilihat langsung. Di situlah letak bobot nilainya (qimah) yang bisa mempengaruhi jiwa.
Jangan sampai terjadi nandur gedang uwoh pakel, ngomong gampang ngelakoni angel (bicara itu mudah, tetapi sulit melaksanakannya).
Contohnya, saat azan berkumandang, seorang bapak berteriak kepada anaknya, “Le, wis azan, ndang wudhu, ndang neng masjid!” tapi si bapak menyuruh sambil asyik scrolling HP. Anaknya yang taat kemudian wudhu dan pergi ke masjid sampai selesai salat berjamaah. Begitu pulang ke rumah, si bapak ternyata masih scrolling HP di tempat yang sama.
Bagaimana mungkin anak bisa mengambil qudwah shalihah jika apa yang ia lihat berbeda dengan apa yang ia dengar? Sekali dua kali anak mungkin patuh, tapi lama-kelamaan akan ada ganjalan di hatinya: “Lha bapakku dewe piye toh?”
5. Dakwah Bil Hal (Dakwah Melalui Perilaku)
Tantangan akan terasa lebih berat jika kita berdakwah kepada orang yang posisinya lebih tinggi dari kita, misalnya orang tua yang belum mendapatkan hidayah. Jika kita tidak memiliki senjata doa dan keteladanan yang kuat, akan sangat sulit mempengaruhi mereka.
Dulu, Rasulullah ﷺ sebelum diperintahkan berdakwah kepada kaumnya, diperintahkan untuk salat malam guna menguatkan jiwanya:
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzzammil: 5)
Lalu Allah memerintahkan: “Wa andzir ‘asyiratakal aqrabin” (Berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat). Tokoh-tokoh besar di kalangan kerabat Nabi seperti Abu Lahab, Abu Thalib, dan Hamzah adalah orang-orang berpengaruh. Membawa risalah kepada mereka membutuhkan kekuatan jiwa yang besar.
Sama halnya dengan Nabi Musa ketika mendatangi Firaun. Firaun langsung mengungkit masa lalu Nabi Musa dengan nada merendahkan:
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu?” (QS. Asy-Syu’ara: 18)
Firaun seolah-olah berkata, “Kamu dulu anak asuhku, aku yang memberi makan, kok sekarang berani memberi peringatan kepadaku?” Jika tidak memiliki mental yang dididik langsung oleh Allah, tentu kekuatan jiwa akan langsung habis runtuh menghadapi tekanan psikologis seperti itu.
Oleh karena itu, di dalam Surat Al-Muddatstsir disebutkan:
Bersihkan pakaianmu (secara zahir) dan tinggalkan dosa-dosa (secara batin). Serta jangan memberi dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih banyak dari manusia (mancing-mancing). Akhlak seperti ini harus dimiliki oleh setiap dai.
Meskipun antum bukan “dai mimbariah” yang sering berbicara di atas mimbar, ketika antum sudah dikenal sebagai bagian dari komunitas pengajian atau dakwah, sejatinya antum adalah dai di tengah masyarakat melalui Dakwah bil Hal (dakwah dengan perilaku).
Suluk (perilaku) antum, amanah antum di masyarakat, pakaian yang ditampilkan istri antum, serta akhlak anak-anak antum, adalah tampilan utuh dari seruan dakwah. Kalau di situ ada cacat, misalnya anaknya bermasalah atau istrinya terlibat utang piutang yang tidak beres, orang-orang akan mencibir, “Lho, padahal pengurus masjid kok keluarganya begitu.” Hal itu tentu akan membuat posisi dakwah menjadi sulit (judeg).
Dakwah bil hal itu sering kali afshah (lebih fasih dan jelas) daripada dakwah mimbariah. Perilaku konkret itu maujud (nyata), maqru’ (bisa dibaca), manzhur (bisa dilihat), dan malmus (bisa dirasakan).
Kesimpulan & Tanggung Jawab kepada Orang Tua
Mari tempatkan diri kita masing-masing sebagai dai melalui keteladanan langsung (dakwah bil hal). Bagi yang diberi amanah di dakwah mimbariah, tuntutan untuk menyelaraskan ucapan dan perbuatan tentu jauh lebih besar lagi.
Seiring berjalannya waktu, tanggung jawab kita tidak hanya berhenti pada keluarga kecil (istri dan anak), melainkan akan meluas kepada kedua orang tua kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam Al-Qur’an:
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’…” (QS. Al-Isra: 23)
Ketika orang tua sudah sepuh, itu menjadi tanggung jawab penuh bagi kita sebagai anak, terutama bagi anak laki-laki. Tanggung jawab ini tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Jika ada orang tua yang telantar atau terabaikan, maka pihak yang paling bersalah adalah anaknya.
Semoga sedikit penyampaian di sore hari ini membawa manfaat, khususnya bagi diri saya pribadi dan juga bagi ikhwah sekalian, sebagai bekal untuk menjaga diri dan mengembangkan tanggung jawab di lingkungan kita yang lebih luas. Wallahua’lam
INFAK DAKWAH AL QOYYIM LEWAT SINI:
– BSI: 22-888-3333-8 (a.n. Yayasan Al Qoyyim)
– Konfirmasi: 0823-2708-0840